Breaking News

Latest updates and breaking stories • October 19, 2025 • Stay informed with reliable news coverage

Sunday, 19 October 2025
5 min read

Mediacepat.com

Berita Tercepat, Informasi Aktual

Mancanegara
5 min read

Israel Serang Rafah di Tengah Gencatan Senjata, Dunia Bereaksi Keras

Di tengah perjanjian gencatan senjata yang rapuh, Israel meluncurkan serangan udara ke Rafah, Gaza. Serangan ini memicu kecaman global dan kembali memanaskan konflik di Timur Tengah.

S

Shafira

October 19, 2025 at 11:32 AM
Share:
Israel Serang Rafah di Tengah Gencatan Senjata, Dunia Bereaksi Keras

Gencatan senjata seharusnya berarti senyapnya suara ledakan dan kembalinya rasa aman, bukan? Namun, Sabtu malam (19/10/2025), langit Rafah, Gaza, justru kembali memerah oleh serangan udara Israel. Padahal, kedua pihak baru saja menyepakati penghentian tembakan sejak awal Oktober. Lalu, apa yang membuat gencatan senjata ini kembali rapuh dalam waktu singkat?


Gencatan Senjata yang Retak di Tengah Jalan

Ketika dunia bernapas lega mendengar kabar gencatan senjata Israel–Hamas, harapan untuk sedikit kedamaian mulai tumbuh. Namun harapan itu tak berlangsung lama. Militer Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Rafah, Gaza bagian selatan, pada Sabtu malam.


Menurut laporan Reuters, serangan ini disebut sebagai “respons terbatas” terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan Hamas. Pihak Israel mengklaim kelompok militan tersebut menembakkan roket anti-tank dan melakukan penembakan di dekat garis buffer Rafah — wilayah yang seharusnya steril dari aktivitas militer selama masa gencatan senjata.


Namun dari pihak Gaza, narasinya berbeda jauh. Kantor Media Gaza menyebut serangan ini hanyalah satu dari 47 pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel sejak perjanjian damai diberlakukan. Mereka mencatat 38 warga Palestina tewas dan lebih dari 140 luka-luka akibat rangkaian serangan itu.


Rafah: Wilayah Paling Sensitif di Gaza

Kalau ada satu wilayah di Gaza yang benar-benar menjadi “urat nadi” kehidupan warga, itu adalah Rafah. Di sinilah ratusan ribu pengungsi berlindung, terutama setelah banyak wilayah lain di Gaza porak-poranda akibat perang panjang.


Rafah juga berfungsi sebagai jalur penting bagi distribusi bantuan kemanusiaan dari Mesir. Jadi, ketika serangan udara menghantam wilayah ini, bukan hanya target militer yang terdampak, tapi juga para pengungsi yang hidup dalam kondisi serba terbatas.


Seorang relawan dari lembaga bantuan internasional mengatakan kepada The Guardian, “Setiap kali Israel menyerang Rafah, dampaknya bukan hanya korban jiwa, tapi juga tertundanya bantuan makanan dan obat-obatan bagi ribuan orang yang sedang kelaparan.”


Israel: “Kami Hanya Merespons Serangan Hamas”

Dalam pernyataannya, juru bicara militer Israel menyebut bahwa serangan udara ke Rafah merupakan tindakan defensif. “Kami tidak melanggar perjanjian, kami hanya menanggapi ancaman langsung terhadap pasukan kami,” ujarnya, seperti dikutip dari Times of Israel.


Menurut klaim tersebut, pasukan Hamas menembak dari terowongan bawah tanah di dekat perbatasan Rafah, yang kemudian dibalas dengan serangan presisi. Israel menegaskan bahwa mereka menargetkan “operatif bersenjata”, bukan warga sipil.


Namun kenyataannya di lapangan tidak sesederhana itu. Laporan dari Al Jazeera menyebut bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan yang berlindung di penampungan sementara. Fakta ini kembali menimbulkan kritik tajam dari berbagai pihak terhadap Israel yang dianggap “mengabaikan nilai kemanusiaan di bawah dalih pertahanan diri.”


Hamas: “Israel yang Mulai Duluan”

Di sisi lain, Hamas menolak tudingan melanggar gencatan senjata. Mereka justru menuduh Israel melakukan provokasi sejak awal Oktober. “Kami tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata, tetapi Israel terus melakukan pelanggaran,” ujar salah satu juru bicara Hamas.


Hamas juga menegaskan bahwa mereka tidak meluncurkan roket apa pun dari Rafah. Menurut mereka, klaim Israel hanyalah pembenaran untuk melanjutkan agresi militer di Gaza.


Kedua narasi yang saling bertentangan ini membuat masyarakat internasional semakin sulit menentukan siapa sebenarnya yang melanggar perjanjian terlebih dahulu. Namun yang pasti, warga sipil lagi-lagi menjadi korban utama.


PBB dan Dunia Internasional Mulai Gelisah

Konflik yang kembali memanas di Rafah memicu keprihatinan banyak pihak. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar semua pihak segera menahan diri dan menghormati kesepakatan gencatan senjata.


“Gencatan senjata tidak berarti apa-apa jika diiringi dengan bom yang masih jatuh,” tegas Guterres dalam pernyataannya di New York.


Beberapa negara seperti Turki, Qatar, dan Mesir juga kembali turun tangan untuk memediasi ketegangan baru ini. Namun, seperti yang sudah-sudah, upaya diplomatik sering kali terbentur ego politik dan kepentingan militer di lapangan.


Krisis Kemanusiaan di Gaza Kian Parah

Serangan di Rafah memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat genting. Berdasarkan laporan UNRWA, lembaga PBB untuk pengungsi Palestina, lebih dari 80 persen warga Gaza kini bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup.


Air bersih semakin langka, listrik hanya menyala beberapa jam per hari, dan rumah sakit beroperasi di ambang kolaps karena kekurangan bahan bakar.


“Setiap peluru yang ditembakkan memperpanjang penderitaan rakyat Gaza. Mereka bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga harapan,” ujar seorang relawan medis di kamp pengungsian Khan Younis.


Mengapa Gencatan Senjata Selalu Gagal di Gaza?

Pertanyaan yang muncul setiap kali konflik ini memanas kembali selalu sama: Mengapa gencatan senjata di Gaza begitu rapuh?


Jawabannya tidak sederhana. Gencatan senjata sering kali hanya menjadi “jeda teknis” — bukan penyelesaian akar masalah. Ketika kedua pihak masih menyimpan dendam, curiga, dan tidak ada jaminan keamanan nyata, maka satu insiden kecil saja bisa memicu perang besar.


Selain itu, faktor politik juga berperan besar. Bagi Israel, tekanan domestik dan kebutuhan untuk menunjukkan ketegasan di hadapan publik sering memengaruhi keputusan militer. Sementara bagi Hamas, setiap serangan bisa dijadikan simbol perlawanan yang menguatkan dukungan rakyat.


Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

Banyak pengamat menilai, jika situasi ini terus berlanjut, gencatan senjata saat ini bisa benar-benar runtuh hanya dalam hitungan hari.


Israel tampaknya tidak akan ragu melancarkan operasi lanjutan jika ancaman dari Gaza dinilai meningkat. Sementara Hamas bisa saja membalas dengan roket atau serangan lintas batas — skenario yang bisa menyeret wilayah itu ke dalam spiral kekerasan baru.


Namun di tengah ketegangan itu, ada satu hal yang masih bisa dipegang: tekanan global terhadap kedua pihak agar menahan diri semakin kuat. Dunia tampaknya sudah lelah menyaksikan siklus kekerasan tanpa akhir.


Masih Adakah Harapan untuk Damai?

Ketika langit Gaza kembali dipenuhi asap dan debu, pertanyaan terbesar bagi dunia bukan lagi siapa yang salah, tapi sampai kapan semua ini akan terus terjadi.


Apakah gencatan senjata masih bisa dipertahankan? Ataukah Rafah hanya menjadi saksi lain dari janji damai yang tak pernah ditepati?


Yang jelas, di balik setiap berita tentang “serangan balasan” dan “operasi militer”, ada jutaan warga sipil yang hanya ingin hidup tenang — tanpa harus takut pada suara jet tempur di atas kepala mereka.

Tags:
Mancanegara News 902 words
Share this article:

Comments (0)

No comments yet

Be the first to share your thoughts about this article!

Leave a Comment

Captcha

Related Articles

5 articles