Vokalis Harum Manis Dicopot Label, Terjerat Skandal Grooming?
Dunia musik indie Indonesia diguncang skandal. Seorang vokalis yang dikenal dengan lagu indahnya, kini diduga melakukan perbuatan terkeji terhadap penggemarnya yang masih di bawah umur.
Bayangkan idola musik yang Anda kagumi tiba-tiba memberikan like pada foto Anda. Senang, bukan? Tapi apa jadinya jika perhatian itu berubah menjadi pendekatan yang menyeramkan? Inilah yang diduga dilakukan Sulthon Kamil, vokalis Harum Manis, yang kini tersandung kasus grooming dan dugaan pedofilia. Dunia maya pun gempar, kariernya hancur seketika.
Dari Panggung Ke Sorotan Hukum: Siapa Sulthon Kamil?
Sebelum namanya menjadi hitam karena skandal, Sulthon Kamil adalah sosok di balik band indie Harum Manis. Bersama Adib Arkan, ia menciptakan alunan musik baroque pop yang memadukan denting piano, gitar, dan unsur orkestra yang megah.
Dengan suaranya yang khas, band yang baru merilis album debut "Hentikan Pernikahan Ini" awal tahun 2024 ini cepat meraih tempat di hati pencinta musik. Mereka adalah salah satu nama yang paling sering disebut-sebut sebagai rising star di kancah indie tanah air. Namun, semua itu berubah dalam semalam.
Awal Mula Skandal yang Mengguncang Twitter/X
Cerita ini mencuat bukan dari pemberitaan media besar, melainkan dari kuasanya masyarakat digital: media sosial. Pada awal September 2025, beredar luas screenshot atau tangkapan layar percakapan di platform X (sebelumnya Twitter) yang menggegerkan netizen.
Screenshot itu menunjukkan percakapan diduga antara Sulthon dan sejumlah remaja perempuan di bawah umur. Isinya bukan sekadar obrolan biasa, melainkan diduga kuat berisi pesan-pesan yang mengarah pada groomingβsebuah taktik manipulasi psikologis untuk mempersiapkan korban menjadi sasaran pelecehan.
Modus Operandi: Like yang Berujung Lubang Jarum
Lalu, bagaimana seorang musisi yang tampaknya sulit dijangkau itu bisa mendekati penggemarnya? Diduga, modusnya dimulai dengan hal yang tampak sepele: memberikan like pada unggahan para korban yang masih remaja.
Tindakan seperti ini, yang bagi korban terasa seperti sebuah pencapaian besar, menjadi pintu masuk. Korban yang merasa senang dan spesial kemudian biasanya akan memberanikan diri untuk mengirimkan pesan ucapan terima kasih. Dari situlah, diduga Sulthon mulai membangun komunikasi intensif.
Dia diduga membangun kedekatan emosional, membuat korban merasa dipahami dan aman. "Dia akan jadi pendengar yang baik, pujian akan datang bertubi-tubi, seolah dia adalah orang yang paling mengerti kamu," jelas seorang pengamat media sosial. Inilah fase dimana batas antara penggemar dan idola dikaburkan, sebelum akhirnya diduga berlanjut pada hal-hal yang tidak pantas.
Reaksi Cepat Industri: Dampak Langsung yang Tidak Main-Main
Respons dari industri musik dan pihak terkait berlangsung sangat cepat dan tegas. Ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang tinggi terhadap isu serius semacam ini.
Lamunai Records, label yang menaungi Harum Manis, langsung mengambil tindakan tegas. Pada 10 September 2025, mereka secara resmi memutuskan semua hubungan kerja sama dengan Sulthon Kamil dan band Harum Manis. Dalam pernyataannya, mereka menyatakan dukungan penuh kepada para korban dan berkomitmen untuk menyelesaikan semua kewajiban kontrak sesuai peraturan.
Tidak berhenti di situ, Synchronize Festival 2025 yang rencananya akan menampilkan Harum Manis pada 3 Oktober mendatang, juga langsung mencoret nama mereka dari line-up festival. Keputusan ini mendapat dukungan luas dari publik, yang mengapresiasi sikap tegas tanpa kompromi terhadap kekerasan pada anak.
Grooming: Apa Sebenarnya dan Mengapa Berbahaya?
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa sih sebenarnya grooming itu? Singkatnya, grooming adalah proses yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan, otoritas, dan kedekatan emosional dengan seorang anak untuk kemudian dieksploitasi secara seksual.
Ini bukan kejadian spontan, melainkan proses yang direncanakan dan bertahap. Pelaku seringkali adalah orang yang dikenal atau justru dikagumi korban, membuatnya semakin sulit untuk dikenali. Mereka memanipulasi perasaan korban, membuat korban merasa bersalah, bingung, dan bahkan merasa bahwa dialah yang bersalah.
"Kasus-kasus seperti ini sangat berbahaya karena korban seringkalnya tidak menyadari bahwa mereka adalah korban sampai dampak psikologisnya sangat dalam," tutur seorang psikolog anak.
Melihat Dua Sisi: Kemarahan Publik dan Proses Hukum
Reaksi netizen bisa ditebak: kemarahan. Jagat Twitter dipenuhi oleh kecaman dan rasa kecewa. Tagar yang mendukung korban menjadi trending topic, menunjukkan solidaritas masyarakat yang kuat.
Namun, di tengah kemarahan yang sangat manusiawi ini, ada satu hal penting yang perlu diingat: prinsip praduga tak bersalah. Meskipun bukti digital telah beredar luas, proses hukum tetap harus berjalan secara objektif dan adil. Pemeriksaan terhadap kebenaran screenshot, konteks percakapan, dan kesaksian korban mutlak diperlukan.
Pertanyaannya, bisakah kita marah sekaligus menghormati proses hukum yang sedang berjalan? Inilah dilema yang sering muncul di era di mana pengadilan sosial (social trial) berjalan lebih cepat daripada pengadilan hukum.
Pelajaran untuk Kita Semua: Kewaspadaan di Era Digital
Skandal Sulthon Kamil adalah peringatan yang keras dan nyata bagi semua pihak: orang tua, penggemar, dan para publik figur sendiri.
Bagi orang tua, ini adalah pengingat untuk lebih waspada dan terbuka dalam berkomunikasi dengan anak remaja mereka tentang aktivitas di dunia maya. Siapa yang mereka ikuti? Siapa yang berinteraksi dengan mereka? Pemahaman tentang bahaya grooming harus disosialisasikan sejak dini.
Bagi penggemar, terutama yang masih remaja, penting untuk selalu ingat bahwa batasan antara penggemar dan idola harus tetap ada. Seorang idola yang tiba-tiba memberikan perhatian sangat personal adalah fenomena yang tidak wajar dan harus diwaspadai.
Dan bagi para selebritas dan musisi, ini menunjukkan bahwa reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam sekejap karena tindakan yang tidak terpuji. Tanggung jawab moral adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Suara Korban adalah yang Terpenting
Di balik gemuruh skandal, pencopotan dari label, dan pembahasan viral di media sosial, ada satu hal yang paling penting untuk tidak terlupakan: suara dan pemulihan para korban.
Keberanian mereka untuk speak up, meskipun awalnya hanya di ruang digital yang kecil, telah memicu gelombang perubahan dan kewaspadaan yang lebih besar. Dukungan untuk mereka harus terus mengalir, bukan justru menyalahkan mereka.
Lalu, bagaimana pendapat Anda? Apakah hukuman sosial seperti pencopotan dari label dan festival sudah cukup adil sambil menunggu proses hukum? Atau ada langkah lain yang harusnya diambil? Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar.